Kamis, 21 Agustus 2014

sahabat terbaik

Perbedaan Cinta dan Sayang

Cinta pada seseorang menimbulkan harapan
Sayang pada seseorang menumbuhkan pengorbanan

Cinta membutuhkan pertemuan fisik
Sayang menembus batas ruang dan waktu

Cinta hadir karena sebab, dan hilang saat sebab tak lagi ada
Sayang hadir tanpa sebab, ia abadi di sanubari...

Cinta itu memberi untuk menerima
tapi sayang, memberi untuk menumbuhkan

Cinta bertemu karena kesamaan persepsi
Sayang tumbuh karena kesamaan visi

Cinta identik dengan, "Kamu, adanya apa?"
Sayang identik dengan, "Kamu, apa adanya!"

Cinta berkata, "Aku suka wajahnya"
Sayang berkata, "Aku senang dengan kepribadiannya"

Cinta.. Hari ini kau mencintainya, esok bisa jadi kau membencinya
Sayang, hari ini, kemarin, esok dan selamanya kau tetap menyayanginya

Ada jatuh cinta, tapi tak pernah ada jatuh sayang.
Dalam beberapa detik, Anda bisa mencintainya, Namun tidak dengan sayang.
Karena sayang itu proses mengerti, memahami, menolong, mendahulukan dalam rentang waktu yang panjang.

sahabat mungkin kita sedang membangun kasih sayang
meski berjauhan
aku di sini
kamu di sana berjauhan dan butuh waktu untuk saling bersua
sahabat akan ada doa terbaik untuk kebaikan kita bersama

salam rindu untuk sahabat terbaikku
#dhes putri_endang mariya_yosi lidia cansera_ayu cahyani _amanda mutiara

yuk jadi ibu soleha




kisah kasih ibu
Sabtu, 22 September 2012
Jika Suatu Saat Kau Jadi Ibu, ..

Jika suatu saat kau jadi ibu, .......
Jadilah kalian seperti Asma' binti Abu Bakar yang berhasil mengobarkan semangat Abdullah bin Zubair (anaknya) yang dengan menakjubkan sanggup bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga syahid menjemputnya. Namanya abadi dalam sejarah dan kata-kata Asma' "Isy kariman au mut syahiidan! (Hiduplah mulia, atau mati syahid!),".... abadi hingga kini.
Jika suatu saat kau jadi ibu,......
Jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi sang anaknya yang kala itu masih remaja. Usianya baru 13 tahun ketika ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah yang tak mengabulkan keinginannya, membuat sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain ketika ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.
Dan tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur'an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini............... Zaid bin Tsabit.
Jika suatu saat kau jadi ibu........
Jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah............Imam Ahmad.
Jika suatu saat kau jadi ibu.....
Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya:
"Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, amin!".
Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya..........Imam Syafi'i.
Jika suatu saat kau jadi ibu......
Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman. Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu.
"Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, besok kamu adalah Imam Masjidil Haram...", katanya memotivasi sang anak. "Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, besok kamu adalah imam masjidil haram..."
Sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama.......... Abdurrahman As-Sudais.

#mimpi_calon_ibu
Yuk pantaskan diri jd wanita yang soleha
Yuk jadikan diri lbh baik
Untuk esok masa depan yang cerah
#aamiin_ya_allah
salam santun ^_^

salam sayang padamu mamah

Yang ku rindu omelan mu ibu
Di balik cerewet mu enggau teramat peduli
Yang kurindu suruhan mu ibu
Karna dirimu kian renta
Yang kurindu larangan mu ibu
Karna larangan mu tersimpan kecemasan
Yang ku rindu masakan mu ibu
Masakan ter-enak sepanjang masa
Yang kurindu suara mu ibu
Di sini sepi tanpa ada dirimu...
Yang ku rindu senyuman mu ibu
Hari2 seakan cepat berlalu tanpa gundah
Yang kurindu pada mu ibu ....
Semuanya dari setiap inci tubuhmu
Dari setiap gerak mu
Dari setiap sikap mu
Dari semua perubahan nada suara mu
Yang paling ku rindu...... Ananda hadir di sisi mu
<3 <3 <3

gx perlu judul deh heheheh

mengakui ketidak bisaan sungguh sangat terlihat bodoh
meski jujur bagai tertusuk belati
tapi lihat di akhir ke jujuran itu
sungguh melegakan dan menambah ilmumu bukan
di saat yang lain berlagak bisa dan mampu sedang aku terlihat bgtu tulalit dan selalu bertanya , biarlah yang lain merasa pintar yang penting ku dapati perhatian ekstra agar aku lbih bisa
tak ayal aku selalu di tanya bisa desma
d...engan bangga ku bilang belum pak bisa ulang lagi
hahaha lucunya diri ini, tak apalah ^_^ hehe  setidaknya ku dapati ilmu itu meresap ke ubun2
setiap orang di ciptakan dengan kadar kepintaran masing2
untukku mungkin belajar ekstra dr yang lain
bukan bodoh hanya aku berbeda (alasan hehe)
atau terlalu jujur
ah polos sekali dirimu
wkwkwkwk :D

jangan cemburu apalagi futur



aku tidak cemburu dengan pintar mu
juga dngan luas ilmumu
tapi aku cemburu dengan keuletanmu mendapatkan ilmu
#belajartekun
keberhasilan 90% hadir dari ketekunan dan kerja keras
tapi ketekunan krja keras dan semangatku bru 20%
jadi bisa kah saya berhasil
bisa
usahalah
#gubrakkkkkkkkk ...
usaha nya itu lo yang susah
nah bsiaplah tertawa
kok tertawa
karna ambisiusmu tanpa usaha itu
hanya akan membuatmu gila
#waduhserembuuuuuuuuuuanget
kata temen menesahati diri
sadarlah sadarlah sadarlah
eh jangan lupa seimbangkan dunia akhiratmu ukhty
#makingubraakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
ternyata hidup ini berat
kalo gx mau susah hidup mati aja tp tunggu yakin masuk surga
iiiih bikin makin takut
heheheh sayang setiap apa yang kita lakukan pasti ada resiko dan pertanggung jawabnya bagaimana ktnya aja menghadapi itu
mau menanggung resiko atau hanya diam dengan resiko yang mungkin lebih besar lagi
#think

cita-cita itu mesti di kejar

cita cita itu harus di kejar
setinggi bintang atau di penuhi batu rintangan yang menggunung
begitu semangat ,,,
terkadang jua runtuh terkikis
kau tau betapa indah mencapai asa
yups kepuasan tersendiri...
tapi tau kah kau mencapai itu butuh tetes darah dan keringat
tak gentar jua tak putus asa meski diri berlelah lelah
kini sebuah asa terpatri di sanubari
mengetarkan jiwa dan gejolak hasrat
tuhan jadikan ini sebuah jalan menuju ridhomu
tanpa ada rasa sombong dan berbangga diri
lantas
menjatuhkan ku pada titik terendah
menjauh dr syukur dan merasa hebat
merendah lah dan berdedikasi tinggi
sebuah asa yang kini menggantung tepat di langit2 kamar
dan semoga esok tuhan jadikan ini sebuah kenyataan terindah
aamiin

salam rinduku papah

Yang kurindu pada mu ayah adalah suaramu
Yang sering mengomeli anak gadis mu yang manja ini
Rindu suara mu yang bahkan lebih sering terdengar dr pada suara ibu
Yang aku rindu padamu ayah adalah tawamu
Canda tawamu yang kadang kala garing justru membuat kami tertawa
Dari tawamu ayah ku lihat deretan gigi mu yang mulai menghilang
Ayah dirimu kian renta sekarang
Yang kurindu dari mu ayah adalah rambut mu yang kian memutih
Mengingatkan ku bahwa aku hrus segera membahagiakan mu
Mengingatkan ku bahwa mungkin waktu kita kian sempit
Yang membuat ku rindu pada mu ayah adalah postur tubuhmu yang kecil
Ayah enggkau kian renta sekarang jonggkong mencabuti rumput 1jam saja
Bisa menghabiskan 7hr mu di kasur atau di kursi karna pinggang mu yang nyeri
Ayah yang kurindu dari mu adalah tirus wajah mu
Ya dirimu kian renta ayah wajah itu kian keriput menyesuaikan deretan gigi yang mulai menghilang
Yang kurindu pada mu ayah
Masih kah nanti di saat saat bahagiaku kelak enggkau masi ada di samping ku
Menghadiri wisudaku atau menerima pinangan pangeran ku kelak dan menanti cucu cucu mu kelak
Semoga allah panjangkN umur ayah hingga enggkau selalu hadir di setiap momen indah itu
Biar orang berkata apa pun atas mu ayah
Kau tetap yang terbaik untuk anak mu ini

cinta


Cinta
Tak da yang salah tentang sebuah kata "cinta"
Adakah yang mengelak untuk tidak merasainya??
Rasa itu pasti pernah hadir
Mana kala jiwa di landa virus merah jambu
Jiwa seakan tak mau kompromi
Sahabat tak da yang salah mana kala itu terjadi
Yang salah adalah rasa malu di kesampingkan
Rasanya ingin selalu tau kabr nya sdang apa dia dengan siapa ,makan sama apa, tak da yang salah pula han...ya saja jaga lah izzah diri
Aduhai soleha rasa malu adalah mahkota di singgah sana
Ketegasan mu adalah benteng diri
Jadi lah bunga terpelihara yang semerbak wanginya dan di pagari agar tak seorang pun berhak memutik sesuka hati
Lembut bukan hiasan tp jati diri
Di balik tabir diri yang takut pada ilahi
#kau_bunga_terpelihara_mahligai_surga _tempatnya
 

mujahid bertameng al-quran

Entah mengapa, aku benci mereka, mungkin karena kedua adik perempuanku mereka siksa dan bunuh secara keji di desa kami. Atau mungkin karena ayahku mereka siksa dan tangkap bertahun-tahun lalu di desa kami. Atau yang paling memungkinkan, karena mereka membantai seluruh ibu-ibu di desa kami, termasuk ibuku! Intinya aku membenci mereka dengan sejuta alasanku.h

Mereka...lah yang selama ini senang akan segala penderitaan kami, merekalah yang selalu mencari-cari alasan untuk menyiksa, membunuh, memperkosa, atau merampas barang-barang kami. Mereka itulah Kaum yang telah Allah kutuk dan murkai. Mereka Yahudi! Dan dengan segala sifat dan keburukan yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. Kini aku akan membalas, aku dan dua kawanku akan membalas perbuatan mereka.

Kami berencana melakukan suatu hal yang pasti akan membuat setidaknya kesal salah seorang tentara laknat itu, kami tahu, mungkin tidak akan berpengaruh banyak bagi perlawanan ini, tapi kami tahu, itulah yang mereka sangat benci dari negri kami, "Anak-anak yang sangat nakal dan kurang ajar!" itu kata mereka.

Kami tidak sembarang memilih target, kami telah memantau, menilai dan mengerjai mereka puluhan kali. Maka kami tahu sekarang, kami harus mengincar tentara berpangkat tinggi agar mendapak efek yang luar biasa besar. Tidak sulit bagi kami yang bertubuh kecil untuk bergerak tanpa terlihat. Kami bertiga telah terbiasa puasa sehingga badan kami kurus dan gesit.

Rencana kami adalah mempermalukan salah seorang perwira tentara itu dengan membakar celananya tepat di bawah tempat duduk santainya. Ia adalah Komandan resimen yang berkemah di dalam kota. Setiap pagi kerjanya hanya mengamati para perajuritnya berbaris dan berteriak menyuruh mereka membersihkan kota dari puing-puing bekas pemboman kota tersebut. Kami tahu jadwal ia duduk di kursi malasnya itu, dan kesempatan datang hari ini, bahan-bahan untuk melancarkan misi pun telah terkumpul.

Pagi ini, sebelum Sang Komandan dan pasukannya bangun, seusai sholat Subuh, kami mengendap-endap ke perkemahan kemudian meletakkan bahan-bahan di bawah kursi Sang Komandan. Lalu kami pun pergi bersembunyi. Tugaskulah untuk memastikan misi ini berjalan dengan lancar. Maka kedua kawanku, Abdullah dan Amar, segera pergi untuk sembunyi. Sementara aku sembunyi tak jauh dari kursi Komandan untuk menyulut api pada kain panjang yang kami setengah kubur di pasir yang berhubungan dengan kursi Komandan.

Setelah setengah jam menunggu, salah satu pasukan pun bangun dan mulai membangunkan seluruh tentara kecuali Komandan. Tak lama kemudian sambil berteriak dalam bahasa Ibrani Sang Komandan berteriak-teriak. Pasukan pun segera berkumpul di depan tenda Komandan dalam keadaan berbaris. Sekitar 30 jumlah mereka. Maka dengan bismillah aku memulai aksi. Menyaksikan apiku merambat dengan cepat melalui kain, jantungku berdegup keras.

Tak lama aku mendengar seseorang berteriak, tak salah lagi itu Sang Komandan pasukan. Tanpa sadar aku pun tertawa, yang sebenarnya dapat membahayakan diriku, namun aku tidak tertawa sendiri. Para pasukan resimen itu pun tertawa melihat Komandan mereka tersulut api dan melompat-lompat memegangi celananya yang hangus terbakar. Setelah api di celananya padam dalam beberapa detik. Sontak Sang Komandan berteriak dan seluruh pasukan berhenti tertawa, karena aku yang tidak mengerti bahasanya, aku tetap tertawa, sehingga seluruh pasukan dan Sang Komandan melihatku di tempat persembunyian. Sang Komandan berteriak lagi dan seluruh pasukan terlihat akan mengejarku, dengan panik aku pun segera berlari ke arah dua temanku bersembunyi. Aku berteriak, "Abdullah, Amar, Lari!"

Mereka pun segera bangkit dan berlari, tiba-tiba aku mendengar serentetan tembakan yang memekakkan telinga kecilku, lalu kulihat di depanku, kedua kakak beradik temanku itu jatuh terjerembab dengan tak kurang selusin luka tembak di punggung mereka masing-masing. Aku terpana dan berhenti berlari.

Sekali lagi aku mendengar teriakan Komandan dan suara tembakan terdengar, kali ini hanya satu tembakan. Segera kurasakan kakiku seperti terbakar, aku tertembak. Kakiku seperti patah dan lumpuh. Sakitnya tak pernah kurasakan. Aku pun terjatuh, tak lama kemudian muncul di atasku tiga bayang-bayang tentara. Salah satunya adalah Komandan yang kami sulut tadi. Mukanya merah bukan main. Ia memaksaku berdiri. Kemudian meninju perutku dengan keras. Berkali-kali. Aku sudah tak bisa berteriak, aku ingin menangis, lagi, dua temanku tewas di tangan mereka. Kali ini di depan mataku. Aku terus menerus dipukul sehingga aku pingsan.

Ketika terbangun aku berada di ruangan ini. Bersama seorang tua yang sudah lumpuh. Aku bertanya padanya, "Di mana ini?"
Ia menjawab dengan senyum tulus, "Ini di rumah, karena kau tak mungkin meninggalkannya lagi, sekolah kalau kau mau belajar, dan penjara jika kau ingin menganggapnya begitu."

Aku tak mengerti kata-kata bapak tua itu, tapi aku tahu ia benar soal penjara, karena aku melihat besi-besi penghalang yang menghalangiku keluar ruangan itu. Berhari-hari aku hanya tidur dan melamun. Aku makan berdua dengan bapak tua itu, kami diberi jatah setengah potong roti basi yang harus kami bagi berdua.

Aku sudah beberapa hari tidak sholat, karena aku tidak tahu bagaimana aku harus berwudhu dengan air kami yang hanya segelas itu? Namun kulihat bapak tua itu selalu melakukan gerakan-gerakan seperti sholat dengan duduk setiap waktu sholat.

Akhirnya hari itu, setelah waktu Dzuhur yang aku tahu sudah lewat beberapa jam yang lalu, aku bertanya padanya, "Kek, bagaimana caranya sholat tanpa air?"
Ia menjawab, "bertayamumlah Nak."
"Bagaimana caranya?" aku bertanya.
Maka ia mengajariku cara-cara bertayamum dengan debu pada dinding penjara. Mulai hari itu aku pun sholat dengan bertayamum dan berjama'ah dengan kakek itu setiap waktu sholat tiba.

Setelah aku rasa sebulan aku di sel itu, seorang tentara datang dan membuka pintu sel kami. Ia menyuruhku untuk mengikutinya dengan bahasa yang aku kenal. Aku pun pergi mengikutinya. Kami pergi melalui sebuah lorong panjang yang di kanan kirinya terdapat pintu-pintu seiring aku lewat, aku mendengar teriakan dan rintihan dari balik pintu-pintu tersebut, aku merinding dan takut.
Sampailah aku pada suatu pintu di mana tentara yang membawaku itu pun berhenti. Ia memerintahkanku untuk masuk kedalam ruangan. Kemudian aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kosong tersebut. Sang tentara berbalik keluar dan mengunci pintu tersebut. Sepuluh menit kemudian datanglah seorang tentara berwajah muram dengan tas besar dan terlihat berat membuka pintu dan duduk di kursi di depan meja di tengah-tengah ruangan itu.
Ia bertanya padaku pertanyaan dalam bahasa ibuku, "Siapa namamu Nak?"
Aku menjawab, "Umar!"
Kemudian ia bertanya lagi, "Di mana rumahmu?"
"Kalian menghancurkan rumah dan seluruh desaku dan desa tetanggaku 2 tahun yang lalu!" jawabku marah.
"Lalu kau berniat membalas itu dengan membentuk kelompok-kelompok pemuda yang menggangu tentara kami di lapangan?"

Aku berkata sambil setengah tertawa, "Huh, kalian pikir kami sebanyak itu eh? Satu-satunya kelompok yang kubentuk hanya beranggotakan tiga orang dan kalian telah membunuh dua di antaranya sebelum aku tertangkap, dan kini satu-satunya anggota yang tersisa hanyalah seorang anak muda pincang yang ada di depanmu ini."

Tentara itu marah dan menamparku dengan keras sambil berteriak, "Jangan Bohong! Katakan! Di mana teman-teman kecilmu yang brengsek itu?"
Aku hanya terdiam sambil meringis dan berzikir. Dia marah dan menendangku berkali-kali setiap tendangan aku bertakbir keras. Ia semakin marah dan melakukan itu terus menerus hingga ia lelah.
Kemudian berkata, "Mungkin besok kau mau jujur, tapi hari ini aku ambil oleh-oleh darimu agar kau ingat untuk jujur esok."
Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuh penjepit besar dari dalamnya, ia mendekatiku dan menarik kakiku yang lumpuh. Kemudian ia menjepit kuku ibu jari kakiku dan mulai menariknya. Karena rasa sakitnya akupun berteriak dan hampir lupa menyebut nama Allah. Aku berteriak sekeras-kerasnya karena sakitnya bukan main. Ia mencabut kuku jari kakiku dengan penjepit tersebut. Aku pun menangis.

Ia berkata, "Itulah akibatnya jika bermain-main dengan kami anak kecil!"
Kemudian ia pun pergi dan masuklah tentara yang mengantarkanku tadi dan menyuruhku untuk segera berdiri dan mengikutinya lagi. Sambil meringis menahan sakit pada ibu jari kakiku akupun berdiri dan mengikutinya pergi. Keluar ruangan dan menyusuri koridor tadi yang masih dipenuhi teriakan dan rintihan dari balik pintu-pintu di kanan kirinya.

Tentara yang membawaku ini membawaku ke sebuah sel yang lebih besar dari selku yang pertama, di dalamnya ada empat orang sedang duduk. Sang tentara menyuruhku masuk setelah membuka sel tersebut, dan segera menguncinya begitu aku masuk.

Seorang pria dan tiga orang pemuda yang kukira umurnya hanya berbeda dua tahun dari umurku sekarang. Itulah penghuni sel baruku ini. Pria yang paling tua mendekatiku dan merobek bagian lengan bajunya dan mengikatnya di ibu jari kakiku yang kukunya sudah tidak ada dan masih mengucurkan darah itu.
Ia bertanya, "Apa yang mereka tuduhkan atasmu?"
"Mereka menuduhku membuat kelompok-kelompok anak kecil yang mengganggu pasukan mereka di lapangan," jawabku lemah.
"Apakah kau melakukan itu semua?" tanyanya lagi.
Aku menjawab, "Yang kulakukan adalah bersama kedua temanku mengerjai Komandan mereka, hingga mereka membunuh kedua temanku itu".
Ia berkata, "Mereka memang selalu menuduh kita berlebihan, mereka hanya ingin menyiksa kita, lebih baik kalau kau tutup mulut dan berzikir untuk menghindari siksaan. Bacalah Al-Qur'an dalam hati agar menenangkan."

"Aku belum bisa membaca Al-Qur'an dan belum hafal banyak surat-surat pendek, ayahku ditangkap ketika aku kecil dan ibuku meninggal saat pembantaian di desa kami, aku selamat karena saat itu sedang menginap di rumah tanteku di kota," jawabku.
"Kalau begitu, belajarlah denganku dan ketiga anakku, Faiz, Zaid dan Yahya. Dan aku Musthofa," katanya.
"Kami berhasil menyelundupkan Al-Qur'an ke sini," lanjutnya lagi.
"Baiklah, aku akan belajar darimu, namaku Umar!" kataku.

Sejak itu aku sholat, makan, dan belajar Qur'an dengan ustadz Musthofa dan ketiga anaknya. Ustadz Musthofa ternyata memang seorang guru mengaji dan sudah hafal 30 juz Al-Quran di luar kepalanya. Ia pun membaca dengan lembut dan tartil. Selama beberapa bulan aku belajar bersamanya.
Hingga suatu hari setelah belajar Al-Qur'an aku bercerita tentang hari kedatanganku ke penjara ini. Dan aku bertanya pada ustadz Musthofa tentang pria tua yang satu sel denganku pertama kali, dia menjawab dengan berseri-seri, "Dia adalah guru kami semua di penjara ini, ia adalah inspirasi anak-anak muda kita, ia adalah Sheikh Ahmad Yassien, ia akhirnya dibebaskan belum lama ini, alhamdulillah."

Aku hanya menganguk-angguk tidak mengerti pengaruh pria tua itu terhadap orang-orang di penjara ini. Setahun sudah aku belajar Qur'an dengan ustadz Musthofa. Dan dari hasil didikannya akupun kini tidak terlalu banyak mengeluh dalam ruang interogasi, bahkan aku tidak menjawab apapun pertanyaan-pertanyaan palsu mereka. Biarpun mereka mencabut beberapa lagi kuku-kuku kakiku, aku pun tidak terlalu merasa sakit, karena aku tahu aku memiliki obatnya, yaitu Al-Qur'an, yang semakin ku baca semakin berkurang rasa sakitku. Hingga pada suatu ketika, di ruang interogasi. Pria yang biasa menyiksaku kini menampilkan wajah senang yang luar biasa.

Aku tidak takut lagi terhadapnya, karena sudah hampir habis kuku-kuku di jari tangan maupun kakiku. Namun dia berwajah senang dan aku agak mengkhawatirkan hal itu, karena apa pun yang membuatnya senang adalah berkaitan dengan kesakitanku. Dia berkata, "Aku membawa bukti sekarang anak kecil."
"Tiga orang bukti dan saksi yang kami tangkap melakukan keusilan yang serupa dengan yang kau lakukan pada pasukan kami di lapangan."
"Mereka anak kecil, dan mereka mengaku berasal dari desa yang sama tempat kau tinggal dulu," katanya.
"Aku akan menyiksa mereka di depanmu sampai kau mengaku bahwa kaulah pemimpin mereka, atau mereka mengaku di bawah kepemimpinanmu."

Aku hanya diam. Lalu masuklah tiga anak kecil yang umurnya lebih muda sdariku sekitar 3 tahun. Mereka semua berwajah ketakutan. Sang penyiksa mengeluarkan belati dari dalam tasnya dan mendekati ketiga anak kecil tersebut. Aku hanya melihat dari kursiku dalam keadaan terikat erat.
Ia mengitari mereka satu kali dan bertanya kepada yang paling kanan, "Siapa namamu?"
Anak kecil itu dengan gemetar menjawab, "H...Hasan."
"Apakah kau mengenali kakak ini eh, Hasan?" tanya Sang penyiksa.
Hasan menjawab, "A...Aku tidak mengenalnya."
Lalu Sang penyiksa dengan marah mencengkeram rambut Hasan dan menempelkan belati pada pipinya, dan mulai mengiris pipi tersebut sambil berkata, "Berani berbohong eh?"
Hasan berteriak kesakitan. Aku miris mendengarnya namun tetap diam sambil berdoa untuk kekuatan Hasan.

Kemudian Sang penyiksa melepas Hasan setelah kedua pipinya tergores luka dalam dan mengucurkan darah. Hasan tetap menangis.
Sang penyiksa berdiri di tengah kedua anak kecil lainnya sambil mengamati mereka bergantian.
Kemudian menatapku dan berkata, "Belum mau mengaku kalau mereka anak buahmu eh? Bocah kurang ajar!"

Aku diam dan berharap ia tidak menyiksa kedua anak lainnya.
Namun harapanku pupus, ia malah semakin memperparah siksaan terhadap kedua anak lainnya, hingga hatiku miris dan tanpa sadar aku berteriak, "Berhenti!"
"Aku memang pemimpin mereka, aku yang memerintahkan mereka mengganggu pasukanmu," kataku berbohong.
Ia tertawa. "Ha ha ha, kini kau mengaku setelah melihat anak buahmu disiksa, padahal aku baru saja mulai bersenang-senang," katanya bengis.
"Tapi tidak apa, aku masih banyak waktu untuk menyiksa mereka, tapi kau, kau akan kami hukum mati besok, karena pengakuanmu ini," Sang penyiksa berkata lagi.

Lalu ia keluar dan menyuruh sorang tentara membawa kami berempat menuju sel kami dan bertemu dengan ustadz Musthofa.

Aku menceritakan segala kejadian yang berlangsung di dalam ruang interogasi dan ia berkata, "Subhanallah, kau telah ditetapkan untuk syahid demi menolong anak-anak terlantar ini Nak. Insya Allah Jannah Firdaus akan menantimu," aku hanya mengangguk dan mencari posisi untuk tidur malam itu. Sebelum tidur aku menulis memo. Lalu aku mengulang-ulang hafalanku sambil berbaring.

Pagi itu Umar bangun dan terlihat tenang sekali, seusai sholat shubuh berjama'ah, ia dan kedelapan penghuni sel yang sempit itu mengaji bergantian. Dengan hanya satu mushaf dan dengan penerangan yang sangat minim.
Sebelum matahari terbit, datang tiga orang tentara Yahudi membuka sel dan menarik Umar. Mereka membawa Umar pagi itu. Hingga siang hari, tidak ada tanda-tanda kembalinya Umar.
Salah seorang penghuni sel itu, ustadz Musthofa, bertanya kepada tukang bersih-bersih yang selalu lewat sel mereka, "Ke mana anak muda itu mereka bawa pergi?" tanyanya.

Ia menjawab, "Mereka membawanya ke tengah lapangan dan menelanjanginya dan mengikatnya di belakang kuda, sambil memacu kudanya dan yang lain menembaki kaki pemuda itu dan ia diseret dengan cara seperti itu hingga ia tewas."

;((((((((((((((((((((

Ustadz Musthofa kaget dan kemudian berkata, "Innalillahi wainnailaihi raajiuun, sungguh kejam mereka," ia memberi tahu kabar ini kepada ketiga anaknya dan kepada ketiga anak kecil di sel mereka, dan mereka pun mendoakan Umar.

Siang itu, setelah mereka sholat dan makan, ketika hendak mengaji, mereka mencium aroma yang luar biasa wangi dan semerbak di seluruh ruangan, dan terutama wangi yang keluar dari mushaf yang mereka pegang, sungguh harum baunya, sampai ustadz Musthofa berkata, "Mungkin ini adalah aroma parfum saudara kita Umar, ia telah dijemput dan dimandikan bidadari hari ini, dan aromanya tercium hingga ke mari."
Hari itu, bumi kehilangan satu lagi mujahid tangguh, mujahid bertamengkan Al-Qur'an, mujahid muda yang berani, dan seorang Hafidz.

(Senin, 22 Desember 2003, Asy-Syahid Al-Hafidz Umar al-Faroouq, 14 tahun, Penjara Nablus, Israel)

Rabu, 20 Agustus 2014

sakitnya itu di siniiiii (nunjuk hati) :'(

Sakitnya itu di sini (nunjuk hati)
Yups rasa sakit kegagalan memang dihati ukh ya karna badan gx ada lecet ataupun memar tentunya
Siapa yang tidK pernah merasa gagal coba tunjuk tangan #rada_esmosi hehehe
Pasti semuanya pernah kan
Soo sakit tu biasa yang jd pertanyaan sakitnya kelamaan atau sebentar??
Saya pernah merasakan tertolak 6x eeets sabar bukan tertolak cinta lo ya tp tertolak d univ im...pian dan rasanya itu serasa dunia terbalik oksigen menipis kepala terhimpit kaki kejepit waduh kok jdi alay ya pokoknya rasanya sakiiiiiiiiiiiiiit kit kit bingit loh suerrr gx bo'ong
Nah disini lah kerja hati sobat, belajar untuk jd dewasa dr masalah, belajar mengintrofesi diri(salah gx si tulisanya hehe di ngertiin aja ya pleaceee )
Dan belajar adakah diri ini kufur nikmat atau lalai dlm beribadah atau jauh dr allah atau kurang doa n lain2nya coba di fikirin deh pasti ada yang salah atau kurang kalo pun endak mungkin allah sedang menguji kita allah sedang melihat seberapa kuat kita allH sedang menilai tabah dan sabarnya kita bukan untuk menjatuhkan bukan untuk menghinakan tapi allah menguji kita untuk menaikan drajat iman kita makin jauh kah kita atau smakin bersimpuh memohon ampun daN terus berdoa lalu tegapkan badan kuat kan hati tetap kan hati dan melangkah kedepan bahwa esok masih harus di jalani teman jangan berhenti, melangkah lah
Kata allah yang menurut mu baik belum tentu baik bgi mu allah sudah tetapkan yang terbaik untuk kita yang perlu kita lakukan adalah bersyukur kuatkan mental tebalkan muka #loh_tapi_ini_bener_looh
Intinya si bersyukur dN menikmati apa yang allah kasih sambil berusaha dan memperbaiki yang salah #sokbijakdeh hehehe tp cius loo
Nah membahas soal bagaimana sikap ucapan atau pandangan orang di skitar kita baik yang dekat maupun jauh
Sebenernya berfariasi sii
Ada yang wajahnya sinis belagu gitu karn sukses dluan ini si minta di tampol hihi baiknya sii diemin aja kuatkan hati lalu bilang dlm hati suatu saat saya pasti lebih dr kmu ets bukan sombong tp penyemangat diri ya inget bukan sombong
Atau ada yang di depan baik gx tau nya di belakang kita dia ngomongin jelek bin ancur atau lebih parahnya lg dia yang nyebarin ke orang lain pake penyedap rasa abon cabe heeeeh kalo ini rasa nya pengen narik tu bibir di kuncit pake karet trus bawa kliling trus bilang ati2 sama mulut ya kalo gx gwe giniin haduuuh sadis jgan aahh maaf ini hanya imajinasi aku aja heehe akhwat soleha gx boleh gtu ya
Trus ada yang baik rasanya itu mak jlep bgt di hat tankyu somuch deh pokoknya
Dan orang yang paling baik sedunia adalah ortu tercinta meski kecewa meski menangis meski impian anaknya masuk skolah pavorit gatot alias gagal total mereka tetep bilang jalan trus nak meski mamah harus peras keringat papah banting tulang trus lah melangkah ahhh jd nangis deh yups ini semangat terbesar dlm hidup saya ini jujur lo hehe
Satu lagi allah tidak pernah pergi allah itu dekat allah itu terbaik deh pokoknya
Karna allah aku belajar sabar
Karna allah aku belajar dewasa
Karna allah aku bersyukur
Karna allah aku bukan penuntut
Yups bukan nuntut trus sma allah tp gx mau melaksana
kan printah dan trus maksiat gx sadar allah gagalin maunya biar sadar eh mlah nyalahin allah nauzibilah ya teman
Karna allah aku jd lebih baik lg allahuma aamin
#ini_ceritaku
#salam_santun
zahra firdausi
Mau tau jurus pamungkasku ndak
Dr kalimat man jad da w jadda
Siapa yang bersunguh2 pasti berhasil
Ya kalo gx skarang pasti besok percaya deh
Trus man sabara sa fira
Siapa yang bersyukur pasti beruntung
(Kalo salah maap ya)
Dan yang paling mujaral obat sakit obat luka hati dan penyubur jiwa adalah allah.......allah lagi.....allah terus

Pesan ku teman
Setial kita pasti pernah salah dan gagal jangan menyerah silakan lah menangis sepuasnya tapi wajib kembali bgun tegap berdiri menantang asa belum sekarang mungkin esok bukan di jalan yang lurus yang kita mau mungkin allah belokan sdkit langkah untuk tetal kuat yups kuat baja
Jangan berhenti perbaiki kesalahan sesali dan ubah esok lbih baik
Yuuuk kepal kan tangan angkat tinggi sambil loncat hehe ini anjuran di kmar aja klo tmpat rame ntr di kira demo
Siiaaaaaap sambil teriak allahu AKBAAAAAAAAAR
#tersenyum lah kawan
Akan ada doa terbaik meski tidak menyebut nama tp kita sodara seiman bukan insya allah sampai deh doanya hehehe sdikit maksa :d
Tapi wajiiib aamiinin lo
Aduuuuuuuuh maaaf jd panjang bgt ya
Ok cukup
Kalo gx makin panjang nie
Ia ia berhenti